Inkanaschampions-dojo
Minimnya fasilitas dalam sebuah dojo sangat berpengaruh terhadap semangat berlatih atlit. Atlit hanya berlatih secara konvensional melakukan gerakan dasar (kihon) maju dan mundur. Melakukan latihan kata dengan menghitung gerakannya sampai kata beres.
Untuk membuat fasilitas latihan yang memadai tidak harus dengan biaya yang mahal. Dengan sedikit memutar otak kita bisa mendapat solusi. Kita bisa menggunakan sandal kohai sebabagai sasaran tendangan atau pukulan. Untuk mengganti cone saat melatih kecepatan kita bisa ganti dengan botol bekas ait mineral. Masih banyak ide-ide cemerlang yang bisa kita aplikasikan saat latihan agar latihan tidak monoton. Saya tunggu ide-ide yang lain dari kohai, senpai dan sensei. Silahkan mengisi kolom komentar.
Wassalamualaikum wr wb
Osh...
Minggu, 15 Oktober 2017
Jumat, 05 Februari 2016
Teknik Latihan Karate
TEKNIK LATIHAN KARATE
PRINSIP-PRINSIP DASAR
OLAH RAGA KARATE
OLAH RAGA KARATE
OLEH :
ROSI H KRAMATMADJA
I. PENDAHULUAN
Karate sebagai salah satu cabang olah raga prestasi, tak luput dari perkembangan IPTEK Olahraga, meski belum bisa dilakukan secara menyeluruh tentang IPTEK olah raga ini, masih banyaknya kendala yang ditemui, sebagai contoh misalnya belum meratanya penyebaran IPTEK Olah raga baik ke tingkat Pengda Forki maupun Perguruan, sehingga masih banyaknya metode konfensional yang masih terpaku dengan sistim pembinaan yang tradisional bahkan sangat panatik dengan sistim yang ortodok .Sistem tradisional yang masih kental terasa adalah pada sistem latihan yang tidak berpegang pada prinsip-prinsip dasar olah raga prestasi dengan benar. Tidak jarang seorang pelatih ingin menambah porsi latihan anak didiknya dengan menambah durasi latihan, tanpa memperhatikan kualitas latihan, intensitas, skill kontrol dan lain-lain, sehingga hasil yang didapat dari latihan kurang nyata keberhasilannya.
Bagaimana prinsip latihan karate yang benar menurut IPTEK Olahraga ? apa dan bagaiman kualitas latihan serta intensitas latihan ?
II. PEMBAHASAN
Latihan atau training adalah : suatu proses berlatih yang sistematis, yang dilakukan scara berulang-ulang, dan kian hari makin bertambah bebannya.
( Harsono ).
Supaya hasil latihan menjadi nyata dalam bentuk prestasi, haruslah berpedoman pada teori serta prinsip yang benar yang sudah teruji kebenarannya.
Prinsip-prinsip dasar yang harus dimiliki seorang pelatih diantaranya :
2.1. Pemanasan Tubuh

Pemanasan Tubuh atau warming up atau pada Olah raga karate sering disebut Taisho, dilakukan sebelum latihan inti, tujuan dari pemanasan itu sendiri adalah :
a. Atlet lebih siap secara fisik dan psikis untuk melakukan gerakan –gerakan inti baik dalam bentuk KIHON, GOHON, KATA maupun KUMITE.
b. Karena secara fisik atau psikis atlet merasa sudah siap, maka karateka lebih sedikit kemungkinan terjadinya cedera.
c. Karateka akan lebih mudah melakukan koordinasi gerakan-gerakkan yang komplek.
Sistematika pemanasan tubuh yang baik, pada dasarnya sama , tergantung kondisi pada saat dilapangan artinya situasional. Secara umum pemanasan diawali dengan stretching atau peregangan atau pemanasan statis, kemudian diawali dengan pemanasan dinamis dengan cara merenggut-renggutkan atau menghentak-hentakan bagian tubuh yang hendak kita panaskan sehingga merangsang otot-otot besar untuk beraktifitas. Sering kali dilanjutkan dengan joging. Atau wind-spint. Tetapi apabila dilapangan kurang pas dengan sistematika diatas bisa dirubah dengan susunan sebaliknya, tetapi harus hati-hati, karena apabila langsung dikejutkan dengan tugas gerak yang dihentak, kaget, kecepatan dll, akan cedera yang berakibat fatal.
Tidak kalah pentingnya adalah pendinginan tubuh atau cooling down, yang dilakukan pada saat akhir latihan. Cooling down atau pendinginan ini bertujuan agar tidak terjadi pengendapan asam laktat atau asam susu yang menyebabkan kekakuan otot, dan kesakitan otot pada keesokan harinya. Pendingin sangat bertolak belakang sekali dengan pemanasan, karena tidak terjadi lagi gerakan yang dihentak-hentak tetapi bersifat merilekskan otot dan sendi.
2.2. Multilateral
Multilateral atau menyeluruh adalah mamberikan materi latihan secara keseluruhan atau secara umum bentuk-bentuk teknik yang akan dilatihkan pada satu season itu. Misalnya seorang pelatih setelah pemanasan memberikan teknik-teknik KIHON sebelum akhirnya ke latihan inti baik latihan KATA maupun latihan KUMITE.
Adapun prinsip Multilateral ini juga bisa diterapkan pada sistem pembinaan terhadap seorang atlet. Seorang anak akan lebih baik jika tidak terlalu dini untuk memilih satu cabang olahraga tertentu ( kecuali senam ), dengan kata lain berikanlah pengalaman gerak sebanyak-banyaknya kepada seorang anak dari berbagai cabang olah raga, sebelum difokuskan pada satu cabang olah raga. Demikian pula dengan seorang Karateka muda usia, idealnya belum bisa difokuskan untuk memilih satu nomor spesialisasinya (KATA atau KUMITE)
Untuk menjadi seorang pemain KATA atau KUMITE, berikanlah kepadanya pengalaman gerak sebanyak mungkin tentang teknik KIHON, KATA maupun KUMITE, untuk kemudian kita arahkan kepadanya sesuai dengan kemampuan gerak, postur tubuh dan yang tidak kalah penting adalah peluang.
Disinilah pelatih harus jeli serta dituntut kesabaran agar tidak tergesa-gesa ingin menuai hasil dari Karateka binaannya, dalam arti tidak mengharapkan prestasi prematur sehingga memberikan latihan dengan potong kompas, yang akibatnya prestasi pada masa golden age tidak tercapai.
2.3. Spesialisasi
Berbanding terbalik dengan prinsip Multilateral, spesialisasi akan diberikan kepada seorang Karateka jika menurut pandangan pelatih sudah cukup untuk diberikan program spesialisasi. Hal mana tujuan Karateka yang kita latih sudah lebih jelas arahnya, yaitu untuk menjadi seorang pemain Kumite atau untuk menjadi seorang pemain KATA, setelah melalui pase multilateral yang dianggap cukup. Penerapan prinsip spesialisasi pada anak-anak atau karateka muda harus hati-hati dan dengan pertimbangan yang cerdikserta selalu berpedoman dari cukupnya prinsip multilateral diterapkan.
Spesialisasi juga bisa diartikan mencurahkan segala kemampuan, baik fisik maupun psikis pada satu teknik andalan, atau jurus andalan (TOKUI)
2.4. Metode Latihan
Beberapa metode latihan yaitu :
a. Metode latihan motorik, yaitu melakukan latihan-latihan teknik dengan cara bergerak sebagaimana teknik karate itu harus dilakukan.
b. Metode latihan nir-motorik , yaitu melakukan latihan –latihan teknik dengan cara tidak bergerak, dengan kata lain melatih dalam bentuk membayangkan atau memvisualisasikan. Namun metode ini saja tidaklah cukup jika tidak dibarengi dengan gerakkan latihan ”motorik”,BMC (brain MuscleConnection). Nirmotorik akan berhasil jika kita mampu membayangkan gerakan-gerakan teknik dengan jelas atau dapat terlihat pada bayangan kita secara nyata, serta kita dapat mengoperasiakan mengenai gerakan yang dimaksud, dengan demikian kita bisa memperoleh dimensi kognitif, bisa diambil dari gerakan teknik yang benar baik video kita sendiri maupun membayangkan teknik yang benar yang pernah dilihat sebelumnya.
c. Metode bagian, yaitu memberikan tahapan-tahapan dari suatu teknik dengan kata lain memberikan materi latihan per bagian, yang kemudian diberikan secara utuh apabila tahapan demi tahapannya telah selesai. Misalnya untuk melatih1 teknik Mawashi geri, yaitu : tahap pertama karateka disuruh mengangkat kaki setinggi lutut 3-5 x, kemudian putar pinggang 3-5x, kaki tumpu berputar 900, pada posisi kaki masih diatas maka luruskan tungkai dengan perkenaan bola-bola kaki…………………dst.
d. Metode menyeluruh, yaitu memberikan atau mengajarkan teknik secara utuh. Misalnya untuk teknik Mawashi geri pelatih memberikan tendangan Mawashi geri secara langsung hingga perkenaan pada target.
e. Metode menciptakan stres yang tiba-tiba dan tanpa diduga-duga sebelumnya. Misalnya didatangkan karateka yang sering menjadi rekannya, atau disparing dengan yang jauh lebih berat dari badannya,pemain KATA harus main KUMITE atau sebaliknya (tanpa menimbulkan resiko yang berarti).
f. Latihan isolasi, yaitu Karateka harus berlatih tanpa disaksikan langsung oleh senpainya atau senseinya. Maksud dari latihan itu untuk mempersiapkan Karateka agar mandiri, karena situasi demikian akan ia hadapi pada saat pertandingan. Latihan demikian sangat penting juga agar seorang Karateka tidak terlalu bergantung pada pelatih.
g. Latihan dengan simulasi, yaitu memberikan materi latihan dengan permainan seperti pada saat bertanding misalnya dengan memberikan nilai terlebih dahulu pada lawan atau sebaliknya. Atau diciptakan kondisi sedemikian rupa agar menyerupai pertandingan sesungguhnya.
2.5. Berfikir Positif
Tidak jarang seorang Karateka melakukan dengan hati yang berat, tidak bersemangat, tidak mood hal ini disebabkan oleh karena “ iner speaking” nya tidak mendukung. Padahal mereka sebenarnya mampu untuk menanggung suatu beban latihan yang berat dari perkiraan semula.
Misalnya seorang Karateka trauma hari “Rabu” karena latihan hari Rabu adalah latihan fisik, sehingga setiap kali latihan hari Rabu akan datang, maka badan terasa panas, mual, sakit kepala, pegal-pegal, tak jarang hingga menggigil dsb. Kondisi seperti ini sebenarnya bisa kita lawan
dengan iner speakingnya yang positif. Misalnya :…… saya bisa, ………saya mampu, ………..saya yakin……….kondisi saya fit, ……….dsb” Karena kebiasaan-kebiasaan seperti inilah yang akan muncul pada saat bertanding nanti.
2.6. Beban Lebih (Over Load)
Prinsip beban lebih atau over load atau progresive resistance, yaitu prinsip latihan yang menekankan pada pembebanan latihan yang semakin berat. Seorang Karateka harus selalu berusaha untuk berlatih dengan beban yang lebih berat dari pada yang mampu dilakukannya saat itu.
Sebagai contoh, Seorang Karateka melakukan latihan Mawashi geri tanpa turun kaki, pada minggu-mingu pertama 30x, minggu kedua 40x, minggu keempat 50x, …….dst.
Pada awal latihan teknik Mawashi geri tentu akan terasa sangat berat dilakukannya, seperti halnya tendangan dengan 30x pada minggu pertama akan sama beratnya dengan tendangan Mawashi Geri pada minggu ke sekian dengan 100x tendangan. Dengan demikian pembebanan yang kian meningkat akan sejalan dengan kemampuan otot serta system dengan fungsi Faal lainya.
Setiap bentuk latihan, baik latihan teknik, fisik, taktik, dan mental harus berpedoman pada prinsip beban lebih ini. Jika beban latihan terlalu ringan, artinya beban latihan seorang Karateka dibawah kemampuan sesungguhnya, maka berapa lamapun ia berlatih, betapa sering pun berlatih, prestasinya tidak akan meningkat. Dengan kata lain latihan harus bisa menyeluruh bahkan melebihi ambang rangsang seorang Karateka.
Akan tetapi perlu juga kita perhatikan agar tidak timbul cedera dan over training, beban berat tersebut harus berada pada batas – batas kemampuan atlet untuk mengatasinya. Jka beban terlalu berat pun perkembangan tidak akan terjadi.
2.7. Intensitas Latihan
Latihan dikatakan intensif jika : latihan-latihan yang dilakukan memacu jantung masuk pada zona latihan. Sebagai tolak ukur menentukan kadar intensitas latihan, khususnya untuk perkembangan daya tahan kardiovascular, kita dapat menerpkan teori Katch dan Mc Ardle, yaitu :
a. Menghitung denyut nadi maksimal (DNM) caranya : 220 – UMUR
b. Intensitas latihan, bagi orang yang bukan atlet tentukan intensitas antara 70% - 85% dari DNM. Untuk atlet 80% - 90% dari DNM, dengan kata lain rumus intensitas latihan atlet adalah 220 – UMUR x 80% s.d 90%. Untuk Karateka elit biasanya sampai 100 ahkan 110 %.
c. DNL (Denyut Nadi Latihan) dipertahankan selama 45 – 120 menit.
Contoh :
Karateka A berusia 20 tahun, akan melakukan latihan untuk untuk olahraga prestasi pada suatu season latihan. Maka karateka A, akan dikatakan latihan secara intensif jika menyentuh ambang rangsang lathan yaitu pada zona sebagai berikut :
220 – 20 tahun x 80 % = 160 denyut/menit
220 – 20 tahun x 90 % = 180 denyut/menit
Karateka A harus berlatih intensif antara DNL 160x s.d 180x/ menit . DNL ini harus dipertahankan selama 45-120 menit.
Jika pelatih akan memberikan waktu untuk beristirahat kepadanya maka berikannlah istirahat aktif dengan berjalan, atau mengerak-gerakan anggota badannya, dan harus diketahui yang lainya, dan harus diketahui pula bahwa latihan intensif memberikan latihan hingga DN (Denyut Nadi) 120x/menit. Sehingga seorang Karateka A jika DN istirahatnya sudah 120x/menit, maka segeralah untuk melanjutkan kembali latihannya.
2.8. Kualitas Latihan
Kualitas latihan sebaiknya ditekankan sejak awal sekali latihan, misalnya seorang pelatih ingin melatih teknik Mawashi Geri, maka tunjukanlah terlebih dahulu bentuk teknik tersebut dengan benar. Berikanlah kesempatan kepada Karateka kita untuk mengulang-ulang teknik yang benar tersebut, sehingga menjadi suatu rangkaian gerak yang continue dan terjadi otomatisasi motorik untuk teknik tersebut.
Jika bentuk teknik Mawashi Geri yang kita harapkan sudah benar, maka tingkatkanlah bentuk-bentuk latihan tersebut agar lebih intensif. Dengan kata lain kualitas harus lebih diutamakan dari pada intensitas. Sering kali latihan sudah intensif, sudah menguras tenaga, bahkan latihan agar dikatakan intensif maka latihan keras pun dilakukan, hal ini akan kurang efektif hasilnya jika tidak memperhatikan kualitas latihannya.
Dengan demikian sebenarnya bagaimana suatu bentuk latihan itu akan dikatakan berkualitas ?
Beberapa ciri latihan berkualitas, yaitu :
a. Latihan atau dril-dril yang diberikan pelatih kepada KOHAI nya,adalah benar-benar bermanfat dan sesuai dengan kebutuhan seorang Karateka tersebut. Misalnya : Karateka A memiliki teknik tokui / andalan serangan rofel atau beruntun, maka pelatih hendaklah memberikan dril-dril yang sesuai dengan kebutuhan Karateka A, jangan memberikan dril-dril serangan tunggal. Namun demikian sebagai bentuk dari variasi latihan, tidak menutup kemungkinan untuk tetap memberikan teknik-teknik lain diluar teknik andalan atau Tokuinya. Contoh lain ketika seorang pelatih KATA akan mendrill KATA andalan atau KATA Tokuinya yaitu Unshu, maka drill lah Kata Unshu sebagai Kata Andalan, sehingga latihan itu akan lebih bermanfaat bagi yang dilatihnya.
b. Koreksi yang tetap dan kontruktif selalu diberikan sesegera mungkin ketika Karateka melakukan kesalahan teknik. Sehingga kesalahan itu tidak menjadi ”handicaping habit” atau kebiasaan salah. Sebagai contoh misalnya seorang Karateka yang akan melakukan teknik Gyaku Tsuki, dengan cara menarik terlebih ke belakang, sebelum tangan aktif yang akan dipakai untuk melakukan pukulan. Segeralah diperbaiki agar tidak menjadi kebiasaan.
c. Berikan pengawasan yang teliti dan lebih detail terhadap suatu teknik yang benar. Jika terjadi kesulitan dilapangan pada seorang pelatih yang tidak bisa memberikan teknik yang benar, maka pelatih bisa meminta bantuan seorang Karateka yang telah menguasai teknik itu atau bisa menunjukannya dengan memutar video.
Tidak kalah pentingnya adalah kebiasaan seorang pelatih yang ingin memberikan waktu latihan pada durasi yang lebih lama, dengan harapan latihan akan berhasil. Hal ini kurang efektif jika dibandingkan dengan latihan pada durasi yang bermanfaat. Jika berlangsung terlalu lama dan terlalu melelahkan maka harus diantisipasi kemungkinan Karateka akan mengalami kejenuhan, memandang setiap latihan adalah penyiksaan, sehinggga hari-hari berikutnya dipandang sebagai sesuatu yang tidak bisa dinikmati lagi.
2.9. Variasi Latihan
Latihan-latihan yang dilakukan secara terus menerus, yang dilakukan secara benar, yang dilakukan pada kurun waktu tertentu, latihan yang dilakukan dengan intensif dan sungguh-sungguh, seringkali
menimbulkan kebosanan berlatih atau Boredom. Perasaan ini akan terjadi pada Karateka di level manapun. Perasaan ini akan menyebabkan latihan menurun, motivasi berlatih juga menurun bahkan harus diwaspadai kondisi ini akan menyebabkan atlet kehilangan kemampuan, jika dibiarkan maka tidak menutup kemungkinan prestasipun akan menurun.
Seorang pelatih dituntut untuk lebih jeli menanggapi keadaan ini. Sehingga tanpa mengurangi tujuan dari satu bentuk latihan, maka berikanlah latihan tersebut dengan model atau cara yang lain. Misalnya pelatih ingin memberikan latihan kecepatan tangan, tidak selalu dengan teknik cudan stuki, tapi berikan berikan bentuk latihan pendukung misalnya dengan menggunakan bola basket dan lakukan teknik cestpass secepat-cepatnya, baik berpasangan maupun dipantulkan kedinding.
Misalnya untuk melatih daya ledak teknik maegeri, tidak selalu harus dengan teknik maegeri tetapi berikanlah latihan dengan bentuk fisik pendukung untuk teknik tersebut misalnya : pliometrik, yaitu loncat satu kaki, dua kaki dengan berbagai variasi. Contoh lain pelatih akan memberikan latihan peningkatan kondisi fisik dengan materi lari. Jika lari dilakukan didalam ruangan dengan waktu 15 menit, otomatis akan menimbulkan kebosanan pada Karateka yang sedang berlatih, maka lakukanlah dengan bentuk latihan yang lain seperti fertlek, cross country atau lari di alam terbuka. Selain bentuk-bentuk latihan seperti itu dilakukan dengan gembira, juga akan lebih segar serta akan memberikan kesan kepada Karateka, bahwa latihan tidak cepat cape, padahal latihan tersebut lebih intensif dan lebih padat. Hal lain beberapa komponen kondisi fisik terlatih secara bersamaan antara lain daya tahan umum, kekuatan, koordinasi gerak, kecepatan, serta unsur-unsur lainya.
2.10. Volume Latihan
Volume latihan, lebih mendekati pada hal-hal yang berhubungan dengan banyaknya, lamanya suatu teknik atau latihan fisik itu dilakukan. Misalnya seorang pelatih ingin melatih Karatenya suatu teknik atau drill agar terjadi otomatisasi gerak, maka cenderung melatih teknik teknik tersebut dengan berulang-ulang, suatu gerakan hingga jumlahnya ratusan kali. Demikian halnya dengan melatih fisik , misalnya seorang Karateka harus lari mengelilingi lapangan sepak bola sebanyak 10 x atau 25 x atau harus berlari selama satu jam.
Disini terlihat bahwa volume lebih berhubungan dengan sesuatu yang dilakukan dengan banyak atau waktu yang lama. Tetapi tidak berlaku kedua-duanya pada satu season latihan.
2.11. Penerapan Sasaran
Pada dasarnya orang memiliki sasaran atau target dalam tujuan hidupnya. Demikian pula dengan pelatih, atlet dan pengurus. Pada kurun waktu tertentu sasaran telah ditetapkan dengan tujuan jangka pendek, jangka-menengah dan jangka panjang. Mengapa sasaran ini perlu diterapkan ?
a. Sasaran perlu ditetapkan agar dapat membangkitkan motivasi baik bagi pelatih, maupun bagi Karateka yang kita latih.
b. Karena ada suatu yang dituju, ada sesuatu yang diharapkan, serta mental pelatih maupun Karateka yang dilatih merasa wajib, dan terikat untukmencapai sasaran tersebut.
c. Jika sasaran tersebut tercapai bukan hanya Karateka yang kita latih yang akan bangga, tetapi pelatih, pengurus dan pihak-pihak terkait akan merasa bangga. Dan dengan suatu keberhasilan tertentu akan mendorong untuk meraih sukses yang lebih tinggi .
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menetapkan sasaran :
a. Harus ditetapkan dengan jelas sasaran untuk jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.b. Sasaran harus spesifik dan dapat diukur seobjektif mungkin
c. Sasaran harus cukup berat untuk dicapai namun realistik serta masih dalam batasan kemampuan atlet untuk
dicapai.
d. Sasaran sebaiknya ditetapkan bersama oleh pelatih dan atlet, sehingga diketahui dan terbuka
e. Sasaran ditetapkan secara tertulis
f. Sasaran sebaiknya menekankan pada keberhasilan melakukan suatu keterampilan dan bukan pada hasil
d. Sasaran sebaiknya ditetapkan bersama oleh pelatih dan atlet, sehingga diketahui dan terbuka
e. Sasaran ditetapkan secara tertulis
f. Sasaran sebaiknya menekankan pada keberhasilan melakukan suatu keterampilan dan bukan pada hasil
melakukan keteranpilan. Contoh : pada waktu melakukan serangan, jangan difokuskan pada hasil mencapai
target, melainkan pada kesempurnaan teknik.
Kepustakaan
Ardle, W., et.al.1986. Exercise Ohysiology, Energy, Nutrition and Human Performance, Lea and Febiger, Philadelphia.
Arnnheim, D., and Klasfs, E., 1981. Modern Principles of Athletic of Training, The C.V. Mosby Company, London
Bompa, T. And Carmichael. 1990. Periodesation of Training for Long term Athletics Success, Australia Olympic Commite
Bompa, T. 1990. Theory and Methodology of Training, Second Edition, Kendal and Hunt Publishing Company, Dubugue, Iowa
Costill, D., and Wilmore, J. 1994. Physiology of Sport and Exercise, Human Kinetics, USA
Harsono. 1988. Coaching dan Aspek-aspek Psikologi dalam Coaching, Tambak Kusuma , Jakarta
Diposkan oleh INKANAS SUMSEL di 3:18:00 PM
Jumat, 31 Juli 2015
26 Kata Karate dan Artinya
Kata
|
Arti
|
Nama Asli
|
Heian Shodan
|
Pikiran yang damai (1)
|
Pinan Nidan
|
Heian Nidan
|
Pikiran yang damai (2)
|
Pinan Shodan
|
Heian Sandan
|
Pikiran yang damai (3)
|
Pinan Sandan
|
Heian Yondan
|
Pikiran yang damai (4)
|
Pinan Yondan
|
Heian Godan
|
Pikiran yang damai (5)
|
Pinan Godan
|
Tekki Shodan
|
Satria yang kuat, kuda-kuda yang kuat (1)
|
Naihanchi
|
Tekki Nidan
|
Satria yang kuat, kuda-kuda yang kuat (2)
| |
Tekki Sandan
|
Satria yang kuat, kuda-kuda yang kuat (3)
| |
Bassai Dai
|
Menembus benteng (besar)
|
Passai
|
Kanku Dai
|
Menatap langit (besar)
|
Kushanku
|
Enpi
|
Burung layang-layang terbang
|
Wanshu
|
Hangetsu
|
Bulan separuh
|
Seishan
|
Jion
|
Nama biksu Budha, pengampunan
|
Jion
|
Nijushiho
|
24 langkah
|
Niseishi
|
Sochin
|
Memberi kedamaian bagi orang banyak
|
Sochin
|
Bassai Sho
|
Menembus benteng (kecil)
| |
Kanku Sho
|
Menatap langit (kecil)
| |
Jitte
|
Bertarung seolah-olah dengan kekuatan 10 orang
|
Jitte
|
Chinte
|
Tangan yang luar biasa
|
Chinte
|
Meikyo
|
Cermin jiwa
|
Rohai
|
Jiin
|
Gema Kuil, Dasar kuil
| |
Gankaku
|
Bangau diatas batu
|
Chinto
|
Wankan
|
Mahkota raja
|
Wankan
|
Gojushiho Sho
|
54 langkah (kecil)
| |
Gojushiho Dai
|
54 langkah (besar)
|
Useishi
|
Unsu
|
Tangan seperti (menyibak) awan di angkasa
|
Hakko
|
Kamis, 23 Juli 2015
Hingga kapan kita berlatih dan mengamalkan karate?
Salam Karate Oss
3 dari 20 Filosofi Karate Gichin Funakoshi diantaranya:
1. "Mempelajari Karate memerlukan waktu seumur hidup dan tak punya batasan"
2. “Karate seperti air yang mendidih, jika kamu tidak memanaskannya secara teratur, ia akan menjadi dingin”
3. "Masukan Karate dalam keseharianmu, maka kamu akan menemukan Myo"
Dari ketiga filosofi di atas kita bisa tahu sampai kapan kita mempelajari dan mengamalkan Karate. Seandainya kita baru mempelajari karate dengan tingkatan sabuk putih. maka kita wajib melaksanakan semua ilmu yang kita dapatkan dari senior (senpai) kita. Meskipun dalam tahap ini mungkin kita baru mengenal sumpah karate saja. Sumpah karate menjadi salah satu pedoman dalam hidup kita untuk selalu berada di jalan kebenaran.
Begitupun ketika kita telah menjadi seorang yudansha yang menyandang sabuk hitam. Sangat disayangkan jika kita berhenti berlatih dan mengamalkan karate. dan jika berhenti berarti kita telah melanggar 3 dari 10 filosofi karate. Hal ini lebih disayangkan jika terjadi kareni lebih terhormat seorang sabuk pemula namun mengamalkan secara konsisten filosofi karate dibanding dengan karateka Dan III yang berhenti berlatih dan mengamalkan karate.
Semoga dengan tulisan ini dapat menggugah hati kita untuk selalu mencari Myo (sesuatu yang tersembunyi) dalam ilmu karate. Karena sabuk yang tinggi tidak berguna jika tidak dilatih dan diamalkan dalam kehidupan.
Begitupun ketika kita telah menjadi seorang yudansha yang menyandang sabuk hitam. Sangat disayangkan jika kita berhenti berlatih dan mengamalkan karate. dan jika berhenti berarti kita telah melanggar 3 dari 10 filosofi karate. Hal ini lebih disayangkan jika terjadi kareni lebih terhormat seorang sabuk pemula namun mengamalkan secara konsisten filosofi karate dibanding dengan karateka Dan III yang berhenti berlatih dan mengamalkan karate.
Semoga dengan tulisan ini dapat menggugah hati kita untuk selalu mencari Myo (sesuatu yang tersembunyi) dalam ilmu karate. Karena sabuk yang tinggi tidak berguna jika tidak dilatih dan diamalkan dalam kehidupan.
Oss
Minggu, 14 Desember 2014
Upacara Tradisi Karate
Dilakukan pada saat sebelum dan sesudah latihan karate, ujian kenaikan tingkat (Kyu maupun DAN), demonstrasi pertandingan, rapat lengkap organisasi dan kongres.
Upacara tradisi karate terdiri dari :
1. Menyiapkan karateka secara tata upacara karate.
2. Pembacaan Sumpah Karate.
3. Menenangkan pikiran (makusho).
4. Penghormatan terhadap bendera negara Indonesia, serta lambang INKANAS dan FORKI
5. Penghormatan lengkap terhadap pelatih, sesama karateka, dan tempat latihan (dojo).
Tata cara upacara karate disusun sebagai berikut :
* Barisan disusun secara senioritas berurut dari kanan ke kiri.
* Pimpinan upacara adalah Majelis Sabuk Hitam yang mengambil tempat didepan barisan (saf) kohai.
* Pengucapan sumpah karate oleh tingkatan kyu paling senior.
* Upacara diusahakan tersedia bendera negara dan bendera perguruan serta induk organisasi olah raga.
* Upacara yang dihadiri lebih dari satu orang majelis sabuk hitam maka barisan disusun secara senioritas mulai dari paling kanan barisan.
Upacara tradisi karate terdiri dari :
1. Menyiapkan karateka secara tata upacara karate.
2. Pembacaan Sumpah Karate.
3. Menenangkan pikiran (makusho).
4. Penghormatan terhadap bendera negara Indonesia, serta lambang INKANAS dan FORKI
5. Penghormatan lengkap terhadap pelatih, sesama karateka, dan tempat latihan (dojo).
Tata cara upacara karate disusun sebagai berikut :
* Barisan disusun secara senioritas berurut dari kanan ke kiri.
* Pimpinan upacara adalah Majelis Sabuk Hitam yang mengambil tempat didepan barisan (saf) kohai.
* Pengucapan sumpah karate oleh tingkatan kyu paling senior.
* Upacara diusahakan tersedia bendera negara dan bendera perguruan serta induk organisasi olah raga.
* Upacara yang dihadiri lebih dari satu orang majelis sabuk hitam maka barisan disusun secara senioritas mulai dari paling kanan barisan.
Rabu, 10 Desember 2014
Istilah-istilah dalam Karate
TINGKATAN DALAM KARATE
| Nmr | Kata | Arti Kata |
| 1 | KYU | Tingkatan Dibawah Sabuk Hitam |
| 2 | DAN | Tingkatan Sabuk Hitam Dari DAN 1 Sampai DAN 10 |
| 3 | MUDANSHA | Tanpa Tingkatan,Khusus Bagi Murid Dibawah Sabuk Hitam |
| 4 | YUDANSHA | Sabuk Hitan Dari DAN 1 Sampai DAN 10 |
KEDUDUKAN PERSONAL
| Nmr | Kata | Arti Kata | |
| 1 | DENSHI | Semua murid-murid tanpa menghiraukann tingkatan | |
| 2 | KOHAI | Murid yunior | |
| 3 | SENPAI | Kakak perguruan senior | |
| 4 | SENSEI | Guru (Sabuk Hitam) yang berkompeten mengajar | |
| 5 | SHIHAN | Master (instruktur) tingkatan yang sangat tinggi, di atas DAN V |
| Nmr | Kata | Arti Kata |
| 1 | SHODAN | Sabuk Hitam DAN I |
| 2 | NIDAN | Sabuk Hitam DAN II |
| 3 | SANDAN | Sabuk Hitam DAN III |
| 4 | YONDAN | Sabuk Hitam DAN IV |
| 5 | GODAN | Sabuk Hitam DAN V |
| 6 | ROKUDAN | Sabuk Hitam DAN VI |
| 7 | SHICHIDAN | Sabuk Hitam DAN VII |
| 8 | HACHIDAN | Sabuk Hitam DAN VIII |
| 9 | KUDAN | Sabuk Hitam DAN IX |
| 10 | JUDAN | Sabuk Hitam DAN X |
ISTILAH DAN EKSPRESI
| Nmr | Kata | Arti Kata |
| 1 | CHUDAN | Tingkat menengah |
| 2 | CHUI | Peringatan |
| 3 | DESHI | Murid |
| 4 | DOJO | Pedepokan/Tempat latihan |
| 5 | GEDAN | Tingkatan lebih rendah |
| 6 | HAJIME | Mulai |
| 7 | JODAN | Tingkatan lebih tinggi |
| 8 | KATA | Rangkaian gerakan karate |
| 9 | KARATE-GI | Seragam karate |
| 10 | KIAI | Metode yg khas dlm beladiri Jepang |
| 11 | KIHON | Latihan Dasar |
| 12 | KIHON KUMITE | Lawan yg sdh diatur sebelumnya |
| 13 | KIME | Konsentrasi penuh dlm penghimpun tenaga |
| 14 | KUMITE | Perkelahian |
| 15 | MA-AI | Jarak |
| 16 | MAWATE | Berbalik |
| 17 | MAKIWARA | Pemecahan |
| 18 | OSS | Sapaan karateka |
| 19 | SEI-AI | Even |
| 20 | SHOBU | Pertarungan |
| 21 | SHOMEN | Ruang buat tamu khusus |
| 22 | YAME | Berhenti |
| 23 | YOI | Bersiap |
KUDA-KUDA
| Nmr | Kata | Arti Kata |
| 1 | DACHI | Cara berdiri |
| 2 | FUDO DACHI | Sikap dasar berdiri |
| 3 | HEISUKO DACHI | Sikap berdiri bebas |
| 4 | JIYO DACHI | Berdiri dg sikap bebas |
| 5 | KOKUTSU DACHI | Berdiri membelakangi |
| 6 | MAE DACHI | Berdiri dg mengarah ke depan |
| 7 | NIKO ASHI DACHI | Cat Stance |
| 8 | SANCHIN DACHI | Hour glass stance |
| 9 | ZENKUTSU DACHI | Berdiri mengedepan |
ISTILAH UMUM
| Nmr | Kata | Arti Kata |
| 1 | Budo | Cara perang (bela diri) |
| 2 | Budoka | Orang yang belajar seni perang (bela diri) |
| 3 | Bushido | Cara dari pahlawan/pejuang (kode hormat dari samurai) |
| 4 | Dai | Lebih besar, besar |
| 5 | DAN | Derajat utama (Tingkatan dalam sabuk hitam) |
| 6 | Deshi | Murid |
| 7 | Do | Jalan, cara |
| 8 | Doji | Simultan, bersama |
| 9 | Dojo | Tempat latihan |
| 10 | Dojo-kun | Peraturan tempat latihan |
| 11 | Embusen | Garis pergerakan (dalam KATA) |
| 12 | Enoy | Semangat persiapan |
| 13 | Fudokan | Pondasi rumah kandang kuda |
| 14 | Gasshuku | Latihan bersama (= penyeragaman teknik) |
| 15 | Gi | Seragam |
| 16 | Gohon | Kelima |
| 17 | Gohon kumite | Pertarungan (kumite) lima langkah |
| 18 | Go no sen | Membiarkan diserang dahulu dgn tujuan untuk membalas |
| 19 | Goshin | Bela diri |
| 20 | Hai | Ya |
| 21 | Han | Setengah |
| 22 | Hanmi | Menghadap ke depan (45 derajat, didepan lawan) |
| 23 | Happo kumité | Kumite melawan beberapa lawan dari berbagai arah |
| 24 | Hara | Perut; bagian tengah dari tubuh |
| 25 | Heiko | Keseimbangan |
| 26 | Hombu | Dojo utama/inti |
| 27 | Hyosh | Penentuan waktu / irama |
| 27 | Iee Iie | Tidak |
| 27 | Jikan | Waktu |
| 30 | Jiyyu kumite | Pertarungan (kumite) bebas |
| 31 | Jutsu | Seni, kemampuan |
| 32 | Ka | Pelajar, siswa |
| 33 | Kamae | Bersiap |
| 34 | Kan | Aula |
| 35 | Kara | Kosong |
| 36 | Karate | Tangan kosong |
| 37 | Karate Do | Cara karate |
| 38 | Karateka | Orang yang belajar karate |
| 39 | Karategi | Pakaian karate |
| 40 | Kata | Bentuk latihan (=jurus); bahu |
| 41 | Ki | Kekuatan bagian dalam |
| 42 | Kiai | Teriakan semangat / peledakan energi |
| 43 | Kihon | Dasar |
| 44 | Kihon ippon kumite | Teknik dasar suatu pertarungan (kumite) |
| 45 | Kime | Pemusatan semua kekuatan di satu titik dgn suatu teknik |
| 46 | Ko waza | Semua ilmu tentang teknik tangan |
| 47 | Kohai | Yunior; adik seperguruan |
| 48 | Kokyu | Pernafasan |
| 49 | Kumite | Pertarungan / pertempuran |
| 50 | Kun | Sumpah / peraturan |
| 51 | Kyu | Rangking; tingkatan |
| 52 | Ma ai | Jarak |
| 53 | Makiwara | Papan lentur (=Papan dililit tali jerami & ditanam ke tanah) |
| 54 | Makuso | Meditasi (=menghayati, menenangkan pikiran) |
| 55 | Narande | Berbaris |
| 56 | Obi | Sabuk; ikat pinggang |
| 57 | Osh | Secara umum, mengandung pengertian "Ya, saya mengerti" |
| 58 | Oshinabu | Pantang menyerah |
| 59 | Osu | "Saya mengerti dan akan mencoba yang sebaik mungkin" |
| 60 | Otoshi | Menjatuhkan |
| 61 | Oyo kumité | Pertarungan (kumite) menghadapi beberapa lawan |
| 62 | Randori | Latihan pertarungan (kumite) bebas |
| 63 | Rei | Menunduk; sapaan (tanda dari hormat) |
| 64 | Renmei | Perserikatan, asosiasi, anggaran dasar |
| 65 | Ryo | Berdua (=keduanya) |
| 66 | Ryu | Sekolah, aliran |
| 67 | Sanbon kumite | Pertarungan (kumite) tiga serangan |
| 68 | Satori | Penjelasan dalam seni bela diri |
| 69 | Seiretsu | Rangking (tingkatan) berdasarkan garis |
| 70 | Seiza | Meditasi (=menenangkan pikiran) dengan posisi berlutut |
| 71 | Sen | Inisiatif |
| 72 | Sensei | Guru, ahli |
| 73 | Sensei ni | Menghadap guru |
| 74 | Sempai | Senior, kakak seperguruan |
| 75 | Shiai | Turnamen, kompetisi, kejuaraan |
| 76 | Shihan | Orang yang sangat ahli |
| 77 | Shin | Semangat |
| 78 | Shitei | Hubungan antara guru dengan murid |
| 79 | Shito | Pertarungan (kumite) hidup atau mati |
| 80 | Shoto | Pergerakan cemara / nama samaran Funakoshi |
| 81 | Shotokan | Rumah dari Shoto ; "Laut Rindu"; nama samaran Funakoshi |
| 82 | Sokumen | Samping |
| 83 | Sonkei | Hormat |
| 84 | Soto | Luar |
| 85 | Taisho | Pemanasan |
| 86 | Tate | Vertikal |
| 87 | Te | Tangan |
| 88 | Tokui | Kesukaan, pilihan |
| 89 | Tori | Penyerang |
| 90 | Wa | Harmoni |
| 91 | Waza | Teknik |
| 92 | Wazari | Setengah poin (nilai setengah) |
| 93 | Yame | Berhenti |
| 94 | Yasume | Rileks (atau posisi siap) |
| 95 | Yoi | Siap |
| 96 | Yakusoku kumité | Pengaturan kumite |
| 97 | Zanshin | Keseimbangan dan pengontrolan, kesadaran |
TEKNIK KARATE :
| Nmr | Kata | Arti Kata |
| 1 | Age | Naik, keatas |
| 2 | Age empi | Sikutan keatas |
| 3 | Age te | Angkat tangan; tangan keatas |
| 4 | Age tsuki | Hantaman (pukulan) naik keatas |
| 5 | Age uke | Tangkisan dari bawah ke atas |
| 6 | Ai | Pemfokusan/pemusatan |
| 7 | Ashi | Kaki |
| 8 | Ashi barai | Sapuan kaki |
| 9 | Ashi geri | Tendangan kaki depan |
| 10 | Ashi sabaki | Pergerakan kaki |
| 11 | Ashikubi | Mata kaki |
| 12 | Atama | Kepala |
| 13 | Ate | Benturan/tangkisan |
| 14 | Awase | Dikombinasikan |
| 15 | Awase shuto age uke | Dikombinasikan tangkisan pisau tangan |
| 16 | Awase tsuki | Pukulan "U" |
| 17 | Choku tsuki | Pukulan lurus |
| 18 | Chudan | Bagian tengah |
| 19 | Dachi | Kuda-kuda (cara berdiri)/posisi |
| 20 | Empi (Hiji) | Siku |
| 21 | Empi uchi | Tangkisan siku |
| 22 | Empi uke | Tangkisan sikut |
| 23 | Engetsu uke | Tangkisan kaki melingkar |
| 24 | Ensho | Bagian belakang dari tumit sepatu |
| 25 | Fudo dachi | Kuda-kuda (cara berdiri/posisi) bertempur |
| 26 | Fumi kiri | Tendangan menggunting |
| 27 | Fumikomi | Tendangan menempel |
| 28 | Gamae | Menarik |
| 29 | Gedan | Tingkat rendah, bawah |
| 30 | Gedan barai | Penangkisan (pertahanan) dari atas ke bawah |
| 31 | Gedan tsuki (zuki) | Pukulan mengarah ke bawah |
| 32 | Gedan uke | Tangkisan ke bawah |
| 33 | Geri | Tendangan |
| 34 | Geri waza | Ilmu pengetahuan tentang teknik kaki |
| 35 | Gyaku | Kebalikan / balasan |
| 36 | Gyaku haito uchi | Tangkisan balasan berupa pukulan |
| 37 | Gyaku tsuki | Pukulan balasan |
| 38 | Hachiji dachi | Posisi (kuda-kuda) alamiah |
| 39 | Haishu | Belakang tangan |
| 40 | Haishu uke | Tangkisan belakang tangan |
| 41 | Haito | Punggung tangan |
| 42 | Haito uchi | Tangkisan punggung tangan |
| 43 | Haishu uchi | Tangkisan tangan belakang |
| 44 | Haiwan | Belakang lengan |
| 45 | Haiwan nagashi uke | Tangkisan sapuan belakang lengan |
| 46 | Hangetsu dachi | Posisi (kuda-kuda) jam gelas - melebar |
| 47 | Hidari | Kiri |
| 48 | Heisuko | Puncak dari kaki (kaki paling atas) |
| 49 | Heisoku dachi | Posisi (kuda-kuda) dalam keadaan formal |
| 50 | Hidari ashi orishiku | Lutut kaki kiri |
| 51 | Hikite | Kedua tangan ditarik kembali |
| 52 | Hiraken | Kepalan sendi engsel bagian depan |
| 53 | Hiraken uchi | Sasaran sendi engsel bagian depan |
| 54 | Hiza (Hitsui) | Lutut |
| 55 | Hiza age ate | Tangkisan lutut keatas |
| 56 | Hiza geri | Tangkisan/tendangan lutut |
| 57 | Ippon ken | Satu kepalan sendi engsel |
| 58 | Ippon ken tsuki | Satu pukulan kepalan sendi engsel (Hangetsu) |
| 59 | Ippon kumite | Pertarungan (kumite) satu langkah |
| 60 | Ippon nukite | Serangan satu jari tangan |
| 61 | Ippon nukite uchi | Tangkisan satu jari |
| 62 | Jiku ashi | Pusat putaran kaki |
| 63 | Jiyu dachi | Posisi (kuda-kuda) bebas |
| 64 | Jiyu ippon kumite | Satu serangan dari posisi pertarungan (kumite) bebas |
| 65 | Jodan | Tingkat yang lebih tinggi dari kepala |
| 66 | Juji uke | Tangkisan menyilang (x) |
| 67 | Kage uki | Tangkisan berkait |
| 68 | Kage zuki | Pukulan berkait |
| 69 | Kai ashi | Langkah ke depan |
| 70 | Kaishu | Tangan terbuka |
| 71 | Kaiten | Perputaran |
| 72 | Kakato | Tumit kaki |
| 73 | Kakato geri | Tendangan tumit (dari atas ke bawah) |
| 74 | Kakiwaki uke | Tangkisan langkah pertama dari kekalahan |
| 75 | Karate ni sente nashi | Karate bukanlah yang bergerak pertama kali |
| 76 | Karate wa sente nari | Karate lah yang bergerak pertama kali |
| 77 | Keage | Tendangan ayunan yang melingkar ke depan/ke belakang |
| 78 | Keito uke | Tangkisan pergelangan tangan (kepala ayam) |
| 79 | Kekomi | Tendangan menekan |
| 80 | Ken | Tinju |
| 81 | Kesa geri | Tendangan diagonal |
| 82 | Kensei | Teknik yang dilaksanakan dengan kiai yang diam |
| 83 | Kiba dachi | Posisi (kuda-kuda) menunggang kuda |
| 84 | Kin geri | Tendangan selangkang |
| 85 | Kizami tsuki | Pukulan pertama dengan tinju (tangan) yang di depan |
| 86 | Koko uchi | Tangkisan mulut harimau |
| 87 | Kokutsu dachi | Posisi (kuda-kuda) belakang |
| 88 | Kosa | Penyeberangan |
| 89 | Kosa dachi | Posisi (kuda-kuda) menyeberang |
| 90 | Kosa uke | Tangkisan menyilang |
| 91 | Koshi | Bola kaki |
| 92 | Koshi kaiten | Perputaran pinggul |
| 93 | Koshi sabaki | Pergerakan pinggul |
| 94 | Kuatsu | Ilmu pengetahuan tentang kebangkitan |
| 95 | Kumade | Tangan beruang (teknik tangan) |
| 96 | Kumade uchi | Tangkisan cakaran beruang |
| 97 | Kuzushi waza | Teknik untuk mematahkan keseimbangan |
| 98 | Mae | Depan |
| 99 | Mae empi | Serangan menyiku ke depan |
| 100 | Mae empi uchi | Tangkisan depan menyiku | |
| 101 | Mae geri keage | Tendangan tamparan kaki depan | |
| 102 | Mae geri kekomi | Tendangan menempel (menyodok) kaki depan | |
| 103 | Manji uke | Tangkisan tinggi/rendah | |
| 104 | Mawashi | Berputar | |
| 105 | Mawashi empi uchi | Tangkisan siku memutar | |
| 106 | Mawashi geri | Tendangan memutar | |
| 107 | Mawashi tsuki | Pukulan (tinju) memutar | |
| 108 | Mawatte | Berputar ke belakang (menghadap ke belakang) | |
| 109 | Metsuke | Melihat | |
| 110 | Migi | Kanan | |
| 111 | Migi ashi orishiku | Sikutan lutut kanan | |
| 112 | Mika zuki geri | Tendangan tambahan | |
| 113 | Morote uke | Meningkatkan tangkisan | |
| 114 | Morote tsuki | Pukulan sejajar (paralel) | |
| 115 | Moto dachi | Posisi (kuda-kuda) asli | |
| 116 | Musubi dachi | Posisi (kuda-kuda) berdiri formal (kaki membentuk "V") | |
| 117 | Naiwan | Tangkisan menyapu | |
| 118 | Nakadaka ippon ken | Belakang lengan | |
| 119 | Name ashi geri | Tendangan gelombang yang berputar |
| 120 | Nami ashi | Tangkisan kaki kedalam |
| 121 | Naore | Kembali ke posisi (kuda-kuda) Shizen-tai |
| 122 | Neko ashi dachi | Posisi (kuda-kuda) kucing |
| 123 | Nidan geri | Tendangan ganda |
| 124 | Nihon nukite | Kepalan dengan dua jari lurus (telunjuk & jari tengah) |
| 125 | Nihon nukite uchi | Tangkisan dengan dua jari lurus (telunjuk & jari tengah) |
| 126 | Nihon tsuki | Pukulan ganda |
| 127 | Nukite | Pukulan dengan jari lurus kecuali ibu jari (tangan terbuka) |
| 128 | Oi tsuki | Pukulan menerjang/menghujam |
| 129 | Oi gyaku tsuki | Pukulan menerjang kembali |
| 130 | Osae | Menekan; memaksa |
| 131 | Osaekomi waza | Pegangan |
| 132 | Osae uke | Tangkisan memegang |
| 133 | Otoshi empi uchi | Tangkisan siku kebawah |
| 134 | Otoshi tsuki | Pukulan kebawah |
| 135 | Otoshi uke | Tangkisan kebawah |
| 136 | Ren geri | Tendangan ganda; kombinasi tendangan |
| 137 | Renoji dachi | Posisi (kuda-kuda) L |
| 138 | Ren tsuki | Pukulan ganda; kombinasi pukulan |
| 139 | Renzoku waza | Keseluruhan ilmu pengetahuan tentang teknik kombinasi |
| 140 | Ryoken | Kedua pukulan |
| 141 | Ryowan | Kedua lengan |
| 142 | Ryowan uchi uke | Tangkisan ganda kedalam |
| 143 | Sai | Pisau bercabang dua |
| 144 | Sabaki | Gerakan dalam ruang |
| 145 | Sanbon tsuki | Pukulan (tinju) tiga kali |
| 146 | Sanchin dachi | Posisi (kuda-kuda) jam gelas |
| 147 | San tsuki | Tiga pukulan |
| 148 | Sashi ashi | Melangkahi |
| 149 | Seiken | Kepalan (tinju) bagian depan |
| 150 | Seiryuto uke | Tangkisan lembu jantan |
| 151 | Sen no sen | Menyerang ketika lawan juga menyerang |
| 152 | Sen sen no sen | Menyerang terlebih dahulu sebelum lawan memulai |
| 153 | Shihon nukite uchi | Tangkisan tangan tombak |
| 154 | Shiko dachi | Bergerak kesamping - mengarahkan posisi kaki |
| 155 | Shime waza | Keseluruhan ilmu pengetahuan tentang teknik mencekik |
| 156 | Shintai | Pergerakan tubuh |
| 157 | Shizen tai dachi | Posisi (kuda-kuda) berdiri biasa; posisi rileks |
| 158 | Sho | Lebih sedikit / lebih kecil, kecil, berawal |
| 159 | Shorei | Lambat, pergerakan yang kuat, penekanan kekuatan |
| 160 | Shorin | Pergerakan yang cepat, penekanan kecepatan |
| 161 | Shuto uchi | Tangkisan pisau tangan (dari dalam) |
| 162 | Shuto uke | Tangkisan pisau tangan |
| 163 | Sochin dachi | Posisi (kuda-kuda) kaki mengangkang |
| 164 | Soete | Tangan terbuka |
| 165 | Sokumen awase uke | Kombinasi tangkisan samping |
| 166 | Sokuto | Tepi luar (pisau) dari kaki |
| 167 | Soto mikazuki geri | Tendangan bulan sabit dari samping |
| 168 | Soto shuto uchi | Tangkisan pisau tangan samping |
| 169 | Soto ude uke | Tangkisan sebelah luar lengan |
| 170 | Sukui | Menyodok |
| 171 | Sukui uke | Tangkisan menyodok |
| 172 | Sun dome | Teknik menghentikan serangan sebelum mengenai sasaran |
| 173 | Suri ashi | Gerakan meluncur (dimulai dari kaki depan) |
| 174 | Tai | Tubuh; posisi menanti |
| 175 | Tai sabaki | Pergeseran tubuh |
| 176 | Taikyoku | Penyebab pertama |
| 177 | Tameshiwara | Percobaan dengan mematahkan |
| 178 | Tameshiwari | Pemecahan benda keras |
| 179 | Tate empi uchi | Tangkisan siku keatas |
| 180 | Tate ken | Tinju keatas |
| 181 | Tate shuto | Pisau tangan keatas |
| 182 | Tate shuto uke | Tangkisan pisau tangan keatas |
| 183 | Tate tsuki | Pukulan tinju keatas |
| 184 | Te nagashi uke | Tangkisan berupan sapuan (elak) tangan |
| 185 | Teiji dachi | Posisi (kuda-kuda) T |
| 186 | Teisho | Penyembunyian tumit kaki |
| 187 | Teisho uchi | Bergerak dengan bola ibu jari |
| 188 | Teisoku | Bagian bawah kaki |
| 189 | Tekubi | Pergelangan tangan |
| 190 | Tettsui | Tangkisan pukulan palu, kepalan bawah |
| 191 | Tettsui uchi | Tangkisan kepalan bawah |
| 192 | Te wazza | Teknik tangan |
| 193 | Tobi | Melompat |
| 194 | Tobi geri | Tendangan melompat |
| 195 | Tsugi ashi | Teknik meluncur (dimulai dari kaki belakang) |
| 196 | Tsukami | Cadangan |
| 197 | Tsukami uke | Tangkisan cadangan |
| 198 | Tsuki (Zuki) | Pukulan |
| 199 | Tsuki waza | Ilmu pengetahuan tentang memukul |
| 200 | Tsumasaki | Saran (dari Jari atau Jari Kaki) |
| 201 | Tsuru ashi dachi | Posisi (kuda-kuda) menjulur |
| 202 | Uchi | Dalam, tangkisan |
| 203 | Uchi majiri | Teriakan (perkelahian) |
| 204 | Uchi mikazuki geri | Tendangan bulan sabit dari dalam |
| 205 | Uchi shuto uchi | Tangkisan pisau tangan dari dalam |
| 206 | Uchi ude uke | Tangkisan lengan bawah dari dalam |
| 207 | Uchi waza | Ilmu pengetahuan tentang teknik menghembus |
| 208 | Ude | Lengan bawah |
| 209 | Uke | Tangkisan |
| 210 | Uke waza | Ilmu pengetahuan tentang teknik menangkis dan bertahan |
| 211 | Ukemi | Jatuh, latihan jatuh |
| 212 | Ura tsuki | Pukulan (tinju) tertutup |
| 213 | Uraken | Tinju (pukul) kembali |
| 214 | Uraken uchi | Tangkisan kembali |
| 215 | Uramawashi geri | Tendangan setengah melingkar berbalik |
| 216 | Ushiro | Belakang |
| 217 | Ushiro empi | Sikutan berputar kebelakang |
| 218 | Ushiro empi uchi | Sikutan kembali berputar kebelakang |
| 219 | Ushiro geri | Tendangan belakang dengan cara menghujam |
| 220 | Ushiro mawashi geri | Tendangan belakang setengah melingkar |
| 221 | Ushiro uramawashi geri | Tendangan berputar kebelakang dengan setengah lingkaran |
| 222 | Wan | Lengan |
| 223 | Washide uchi | Tangkisan patukan elang |
| 224 | Yama tsuki | Pukulan (tinju) melebar "U" |
| 225 | Yoko | Samping |
| 226 | Yoko empi | Sikutan samping |
| 227 | Yoko empi uchi | Tangkisan siku samping |
| 228 | Yoko mawashi empi uchi | Tangkisan siku samping menyodok |
| 229 | Yoko geri | Tendangan samping |
| 230 | Yoko geri keage | Tendangan samping menempel |
| 231 | Yoko geri kekomi | Tendangan samping menyodok |
| 232 | Yori ashi | Peluncuran kaki |
| 233 | Zenkutsu dachi | Posisi (kuda-kuda) depan |
| 234 | Posisi (kuda-kuda) depan | Pukulan (tinju) |
KATA :
Bassai Angin ribut dari benteng
Chinte Tangan China/Tangan luar biasa
Enpi Walet terbang
Gankaku Menjulur di batu
Gojushiho Empat puluh empat langkah
Hangetsu Pertambahan / setengah bulan
Heian Pikiran yang tentram (tenang)
Ji'in Tanah kuil, atau taman
Jion Nama candi Budha; Penghormatan kepada Budha
Jitte Sepuluh tangan
Kanku Melihat ke langit
Meikyo Cermin yang terang (jernih/bening)
Nijushiho Dua puluh empat langkah
Sochin Posisi (kuda-kuda) tidak bergerak
Tekki Kuda besi, kesatria besi
Unsu Tangan seperti awan
Wankan Mahkota raja
Chinte Tangan China/Tangan luar biasa
Enpi Walet terbang
Gankaku Menjulur di batu
Gojushiho Empat puluh empat langkah
Hangetsu Pertambahan / setengah bulan
Heian Pikiran yang tentram (tenang)
Ji'in Tanah kuil, atau taman
Jion Nama candi Budha; Penghormatan kepada Budha
Jitte Sepuluh tangan
Kanku Melihat ke langit
Meikyo Cermin yang terang (jernih/bening)
Nijushiho Dua puluh empat langkah
Sochin Posisi (kuda-kuda) tidak bergerak
Tekki Kuda besi, kesatria besi
Unsu Tangan seperti awan
Wankan Mahkota raja
WARNA :
Shiro Putih
Ki Kuning
Midori Hijau
Murasaki Ungu
Cha Coklat
Kuro Hitam
Aka Merah
Ao Biru
Ki Kuning
Midori Hijau
Murasaki Ungu
Cha Coklat
Kuro Hitam
Aka Merah
Ao Biru
PERTANDINGAN :
Aiuchi Bersamaan/serentak
Bunkai Aplikasi KATA dengan partner
Chui Peringatan
Encho Ekstensi
Encho sen Ekstensi dari lamanya waktu pertarungan (dalam pertandingan)
Hajime Mulai
Hansoku Diskualifikasi
Hantei Keputusan
Hikiwake Draw; seri
Ippon Pertama (=satu poin)
Jogai Melewati batas
Keikoku Peringatan keras
Nihon Kedua (=dua poin)
Otaigai ni Saling berhadapan satu sama lain
Rei Hormat
Sai Shiai Ekstensi dari lamanya waktu pertandingan tambahan (10 menit)
Sanbon Ketiga (=tiga poin)
Sanbon shobu Pertarungan (kumite) tiga poin (nilai)
Sanbon shobu hajime Pertarungan (kumite) tiga poin (nilai) dimulai
Shiai jo Area pertandingan (ukuran = 8-10 meter bujursangkar)
Shobu Kompetisi
Shomen Ni Menghadap ke depan
Shushin Wasit
Tokui Kesukaan, pilihan
Wazari Setengah poin (nilai setengah)
Bunkai Aplikasi KATA dengan partner
Chui Peringatan
Encho Ekstensi
Encho sen Ekstensi dari lamanya waktu pertarungan (dalam pertandingan)
Hajime Mulai
Hansoku Diskualifikasi
Hantei Keputusan
Hikiwake Draw; seri
Ippon Pertama (=satu poin)
Jogai Melewati batas
Keikoku Peringatan keras
Nihon Kedua (=dua poin)
Otaigai ni Saling berhadapan satu sama lain
Rei Hormat
Sai Shiai Ekstensi dari lamanya waktu pertandingan tambahan (10 menit)
Sanbon Ketiga (=tiga poin)
Sanbon shobu Pertarungan (kumite) tiga poin (nilai)
Sanbon shobu hajime Pertarungan (kumite) tiga poin (nilai) dimulai
Shiai jo Area pertandingan (ukuran = 8-10 meter bujursangkar)
Shobu Kompetisi
Shomen Ni Menghadap ke depan
Shushin Wasit
Tokui Kesukaan, pilihan
Wazari Setengah poin (nilai setengah)
NOMOR :
Ichi 1
Ni 2
San 3
Shi 4
Go 5
Roku 6
Sichi 7
Hachi 8
Ku 9
Jyu :10
Ni 2
San 3
Shi 4
Go 5
Roku 6
Sichi 7
Hachi 8
Ku 9
Jyu :10
Jyu Ichi :11
Ni Jyu :20
Hyaku :100
Ni Jyu :20
Hyaku :100
sumber: https://sites.google.com
Langganan:
Postingan (Atom)

